Baznas

Baznas Gelar Program Santri Memberdayakan Desa di 26 Titik Ramadhan

Baznas Gelar Program Santri Memberdayakan Desa di 26 Titik Ramadhan
Baznas Gelar Program Santri Memberdayakan Desa di 26 Titik Ramadhan

JAKARTA - Bulan Ramadhan tidak hanya dimaknai sebagai momentum peningkatan ibadah personal, tetapi juga sebagai ruang penguatan peran sosial dan ekonomi umat.

Dalam semangat tersebut, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI meluncurkan sebuah program pemberdayaan yang memadukan nilai religius dengan praktik ekonomi produktif di pedesaan. Program bertajuk Santri Memberdayakan Desa ini digelar selama Ramadhan 1447 Hijriah dan menyasar puluhan titik binaan Baznas di berbagai wilayah Indonesia.

Melalui program ini, Baznas berupaya menghadirkan pendekatan baru dalam pendampingan mustahik dengan melibatkan santri sebagai agen penggerak. Tidak sekadar menjalankan aktivitas keagamaan, para santri juga diajak terjun langsung ke lapangan untuk belajar dan berkontribusi dalam pengelolaan sektor pertanian, peternakan, dan usaha mikro yang telah dikembangkan Baznas di desa-desa binaan.

78 Santri Diterjunkan di Delapan Provinsi

Sebanyak 78 santri terpilih akan mengikuti program Santri Memberdayakan Desa dan diterjunkan ke 26 lokasi yang tersebar di delapan provinsi. Wilayah tersebut meliputi Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Barat, dan Nusa Tenggara Barat (NTB).

Para santri yang terlibat merupakan santri tingkat akhir maupun alumni pondok pesantren dengan rentang usia 17 hingga 22 tahun. Mereka dipilih melalui proses seleksi untuk memastikan kesiapan mental, spiritual, serta kemampuan beradaptasi dengan kehidupan masyarakat desa.

"Program Santri Memberdayakan Desa ini kami hadirkan untuk meningkatkan sisi spiritualitas binaan di lokus Balai Ternak dan Lumbung Pangan. Kami ingin para petani dan peternak kita tidak hanya berdaya secara ekonomi, tetapi juga memiliki ketangguhan iman yang amanah dan produktif," kata Pimpinan Baznas RI Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, Saidah Sakwan.

Santri sebagai Agen Perubahan dan Mentor Religi

Menurut Saidah, pemilihan santri sebagai penggerak utama program didasari oleh potensi besar yang mereka miliki sebagai agen perubahan di masyarakat. Santri dinilai tidak hanya memiliki pemahaman keagamaan yang kuat, tetapi juga kedekatan sosial yang baik dengan warga desa.

Dalam pelaksanaannya, para santri diharapkan mampu mengisi berbagai kegiatan keagamaan selama Ramadhan, seperti pengajian, kultum subuh, hingga literasi keagamaan bagi masyarakat sekitar. Kehadiran santri di tengah desa diharapkan mampu memperkuat nilai-nilai spiritual warga sekaligus menumbuhkan semangat kebersamaan.

"Ini adalah laboratorium nyata bagi santri milenial untuk belajar langsung bagaimana mengelola usaha pertanian dan peternakan di lapangan," ujarnya.

Dengan pendekatan tersebut, Baznas ingin menciptakan interaksi dua arah, di mana masyarakat memperoleh penguatan spiritual, sementara santri mendapatkan pengalaman sosial dan ekonomi yang aplikatif.

Belajar Agribisnis dan UMKM Langsung di Lapangan

Selain menjalankan peran religius, para santri juga akan menyerap ilmu praktis terkait tata kelola agribisnis dan usaha mikro kecil menengah (UMKM). Seluruh lokasi program dipilih secara khusus karena unit usaha pertanian, mikro, dan peternakannya telah berjalan stabil.

"Lokasi-lokasi ini dipilih secara khusus karena unit usaha pertanian, mikro, dan peternakannya sudah berjalan stabil, sehingga layak menjadi Pusat Studi Tiru bagi para santri," lanjut Saidah.

Dengan demikian, para santri tidak hanya belajar teori, tetapi juga menyaksikan langsung praktik pengelolaan usaha produktif yang telah memberikan manfaat ekonomi bagi mustahik. Pengetahuan ini diharapkan menjadi bekal berharga bagi santri ketika kembali ke daerah asal atau merintis usaha mandiri di masa depan.

Metode Live In Perkuat Pendampingan Mustahik

Program Santri Memberdayakan Desa dilaksanakan dengan metode live in selama dua pekan. Dalam satu kelompok kecil yang terdiri dari tiga santri, mereka akan tinggal bersama kelompok binaan Baznas, baik petani lumbung pangan, pelaku UMKM, maupun peternak di Balai Ternak Baznas.

Metode ini memungkinkan santri merasakan langsung dinamika kehidupan masyarakat desa, memahami tantangan ekonomi yang dihadapi mustahik, sekaligus membangun hubungan emosional yang lebih kuat.

Pendampingan secara langsung ini diharapkan mampu menciptakan suasana Ramadhan yang lebih bermakna, karena nilai ibadah dipadukan dengan kerja nyata di lapangan.

Mencetak Generasi Santripreneur Berbasis Desa

Melalui program ini, Baznas berharap lahir generasi baru santri yang tidak hanya unggul dalam pemahaman agama, tetapi juga memiliki keterampilan kewirausahaan. Konsep santripreneur menjadi tujuan jangka panjang dari program ini, yakni mencetak santri yang mampu mengelola lumbung pangan, ternak, dan usaha produktif lainnya secara berkelanjutan.

Kehadiran santri di desa selama Ramadhan diharapkan mampu memperkuat keberlanjutan ekonomi mustahik melalui pendampingan yang humanis dan religius. Dengan penguatan spiritual dan ekonomi yang berjalan beriringan, Baznas optimistis program Santri Memberdayakan Desa dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat pedesaan sekaligus menjadi model pemberdayaan yang dapat direplikasi di masa mendatang.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index